“Ingin sukses tapi tidak mau gagal, bagai orang ingin bisa berenang tapi tidak mau basah”
Quote di atas menurut saya sangat tepat untuk mengawali tulisan ini. Ya, kesuksesan dan kegagalan bagaikan dua sisi mata uang. Saling berhubungan satu sama lain dan tak dapat dipisahkan. Jadi sudah menjadi sunnatullah, kalau kita ingin meraih kesuksesan harus melalui kegagalan terlebih dahulu. Karena dari kegagalan-kegagalan itulah kita akan mendapat banyak pembelajaran. Membuat kita lebih dewasa secara mental, untuk menjadi manusia yang lebih baik di kemudian hari.
Saya akan sharing salah satu pengalaman pribadi dalam menggapai kesuksesan. Kisahnya terjadi 7 tahun lalu, ketika saya masih duduk di bangku SMA. Tentang bagaimana perjuangan saya untuk mewujudkan salah satu mimpi yaitu menjadi juara olimpiade. Kalau Thomas Alfa Edision harus melalui 9999 kegagalan sampai akhirnya bisa menemukan lampu pijar, alhamdulillah saya tidak sampai sejauh itu. Saya “hanya” perlu mengalami 4 kali kegagalan untuk dapat meraih mimpi menjadi juara olimpiade.
Dulu ketika masih SMP, saya pernah membaca sebuah pamflet lomba olimpiade. Dalam pikiran saya saat itu, alangkah bangganya seandainya suatu hari nanti saya bisa mewakili sekolah untuk mengikuti kompetisi tersebut. Hanya itu mimpi saya saat itu, mewakili sekolah dalam lomba olimpiade, bukan sebagai juara. Karena sepengetahuan saya, untuk bisa mewakili sekolah saja kita harus melalui seleksi yang cukup ketat. Hanya murid terbaik di sekolah yang dikirim, menjadi terbaik di kelas saja tidaklah cukup. Ternyata rencana Tuhan berkata lain, saat masih kelas X SMA, saya sudah bisa menjadi bagian dari tim sekolah dalam olimpiade ekonomi tingkat provinsi.
Kesempatan pertama terbuka saat saya mewakili sekolah untuk menjadi peserta Olimpiade Ekonomi di Universitas Brawijaya pada tahun 2004, hasilnya gagal. Kesempatan kedua saya dapatkan di tahun 2005 dalam acara Olimpiade Akuntansi yang diselenggarakan Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN), kembali saya harus menerima kegagalan. Masih di tahun 2005, saya mencoba peruntungan untuk ketiga kalinya melalui Olimpiade SPMB (sekarang SNMPTN) yang diadakan oleh salah satu LBB. Bertempat di Universitas Airlangga, lagi-lagi “makhluk” yang bernama kegagalan masih enggan meninggalkan saya. Di awal bulan Maret 2006 terdapat event Olimpiade Akuntansi di Universitas Brawijaya. Karena masih penasaran dengan kegagalan pertama sampai ketiga, kembali saya memutuskan untuk mengikuti kompetisi ini. Saat itu ekspektasi saya cukup tinggi, sangat berharap pulang dengan membawa piala kemenangan, tapi ternyata Tuhan masih menguji kesabaran saya. Untuk yang kesekian kalinya saya harus pulang dengan tangan hampa. Muncul juga rasa malu dalam diri saya terhadap teman, guru, dan juga tetangga rumah. Sudah 4 kali mewakili sekolah dalam lomba olimpiade, tapi selalu gagal. Sempat terbesit dalam pikiran saya untuk tidak akan lagi mengikuti lomba olimpiade, sepertinya sudah menjadi takdir saya untuk belum merasakan manisnya juara olimpiade.
Tak lama setelah kegagalan dalam Olimpiade Akuntansi di Universitas Brawijaya, saya mendapat informasi tentang lomba olimpiade ekonomi dan ternyata masih di universitas yang sama, kampus biru Universitas Brawijaya. Sebenarnya sempat ada perasaan kapok dalam diri saya saat itu, tapi di sisi lain hati kecil berkata bahwa saya harus mengikutinya. Jiwa challenge mendorong saya untuk ikut andil dalam kompetisi tersebut. Setelah mempertimbangkan dengan matang, akhirnya saya memutuskan untuk mengikuti lomba itu. Ada 3 hal yang mendorong saya untuk kembali berkompetisi. Pertama, saya ingin balas dendam terhadap kegagalan saya di event yang sama pada tahun 2004. Karena pada tahun 2005 panitia tidak menyelenggarakan acara serupa. Kedua, saya berencana mengambil PMDK di jurusan Ilmu Ekonomi Universitas Brawijaya. Apabila saya menjadi juara di acara itu, tentunya akan membuka lebar jalan bagi saya untuk lulus PMDK. Ketiga, saat itu saya berpikir mungkin ini adalah kesempatan terakhir untuk mewujudkan salah satu cita-cita selama ini. Mempersembahkan piala di bidang akademik bagi sekolah. Karena saat itu belum ada siswa di sekolah saya yang berhasil menjadi juara dalam kompetisi bidang akademik. Siswa di sekolah saya lebih sering mengharumkan almamater lewat prestasi-prestasi di bidang kesenian dan olahraga. Saya ingin menjadi pelopor dalam prestasi bidang akademik bagi sekolah saya.
Belajar dari kegagalan saya di perlombaan pertama hingga keempat, kali ini saya tidak ingin gagal lagi. Sebelum membentuk tim, saya mempelajari penyebab kegagalan saya selama ini. Kegagalan pertama, tidak adanya kekompakan tim. Olimpiade adalah sebuah perlombaan tim, dimana dalam satu tim terdiri dari 3 orang. Tentunya harus ada kerja sama yang bagus antar anggota apabila ingin menjadi super team. Di perlombaan pertama ini saya dianggap “anak bawang”. Karena 2 orang anggota tim yang lain adalah kakak tingkat saya. Ditambah sebelumnya kami tidak saling mengenal satu sama lain. Bahkan kami pun sempat adu argumen saat mengerjakan soal di babak penyisihan. Jadilah tak ada sence of belonging dalam tim kami. Kegagalan kedua, egoisme masing-masing anggota. Dalam perlombaan yang kedua, tiap tim terdiri dari 2 orang. Dan siswa yang dipilih oleh guru Akuntansi kami untuk mewakili sekolah adalah yang dianggap paling pintar dalam matapelajaran Akuntansi di sekolah. Terpilihlah saya dan seorang rekan saya. Rekan tim saya kali ini satu angkatan, kebetulan satu kelas tapi dia wanita. Karena tiap individu merasa paling expert di bidang Akuntansi, menyebabkan sering kali terjadi perdebatan di antara kami. Baik selama persiapan maupun ketika perlombaan berlangsung. Dan saya terpaksa harus banyak mengalah karena lawan debat saya adalah seorang wanita.
Kegagalan ketiga, kurangnya persiapan materi. Waktu persiapan lomba yang terlalu mepet, membuat kami tidak maksimal dalam mempelajari materi perlombaan. Sehingga pada bagian-bagian tertentu kami tidak menguasai soal yang dilombakan. Kegagalan keempat, pembagian tugas yang tidak fokus. Olimpiade merupakan kompetisi yang materi perlombaan meliputi hampir semua materi pelajaran dari kelas X sampai XII. Tentunya sebagai siswa SMA kita tidak bisa dalam sekejap menguasai semua materi tersebut. Harusnya ada pembagiaan tugas yang jelas bagi tiap anggota tim. Misalnya Si A mempelajari materi kelas X, Si B materi kelas XI dan C untuk kelas XII. Masing-masing dari kami saat itu belajar sendiri-sendiri materi kelas X-XII, sehingga hasilnya pun tidak bisa maksimal. Di sini saya juga belajar bahwa dalam mengikuti suatu perlombaan perlu adanya strategi, selain persiapan yang matang dan kekompakan anggota tim.
Berdasarkan pengalaman dari kegagalan tersebut, saya menentukan kriteria ketika akan membentuk tim. Kali ini tim yang terbentuk ditentukan sendiri, karena kami kurang mendapat dukungan dari sekolah sehingga harus mandiri. 1). Tim tidak harus terdiri dari siswa paling pintar bidang ekonomi di sekolah, yang penting adalah orang yang berkomitmen 2). Adanya kekompakan dan sence of belonging antar anggota tim 3). Pembagian tugas yang jelas. Akhirnya terbentuklah tim kami yang terdiri dari saya dan seorang rekan sekelas saya, satu orang lagi berasal dari kelas sebelah.
Saat itu, ada 3 tim yang akan mewakili sekolah kami dalam perlombaan tersebut. Karena keterbatasan finansial untuk biaya pendaftaran, transportasi, konsumsi serta akomodasi, kami berencana mengajukan permohonan dana kepada pihak sekolah. Perwakilan dari kami pun menghadap ke kepala sekolah, salah seorang diantaranya saya sendiri. Bukannya dukungan dan bantuan dana yang kami dapatkan, tapi justru caci-maki yang dipersembahkan untuk kami dan hal itu dilakukan di depan pegawai Tata Usaha. Padahal niat kami saat itu baik, ingin mengharumkan almamater tercinta. Sampai sekarang saya masih ingat betul kata-kata kepala sekolah saat itu, “Ngapain kalian jauh-jauh ikut lomba ke Malang? Kalian itu hanya diakalin panitia, mereka itu hanya mencari keuntungan dari kalian. Kalau kalian ingin ikut olimpiade, di Surabaya banyak”. Dalam hati saya berkata, “Oalah bu, percuma kamu ngomong gitu. Selama ini ada banyak lomba di Surabaya kami anak IPS tidak pernah diberi tahu. Tapi kalau perlombaan anak IPA selalu diprioritaskan. Padahal selama ini anak IPA juga tidak pernah berprestasi di bidang akademik”. Dengan ekspresi kecut bercampur rasa dongkol kami tinggalkan kepala sekolah menuju kelas. Tapi hinaan tersebut tidak membuat kami menyerah, justru semakin melipatgandakan semangat kami. Kami ingin membuktikan bahwa anak IPS bisa berprestasi lebih baik dari anak IPA.
Akhirnya kami memutuskan untuk menggunakan dana pribadi, meskipun dengan keadaan yang apa adanya. Dan karena terbatasnya keuangan, membuat kami tidak mampu untuk menyewa penginapan. Kami anggota tim pria tidak seorang pun mempunyai sanak saudara di Malang. Untuk anggota tim wanita mereka menginap di salah satu rumah keluarga di Malang. Saya dan rekan-rekan pun sepakat, “Halah nggak masalah nanti kita nginep di masjid atau mushollah, cowok aja kok”. Dan benar bahwa pertolongan Tuhan akan datang pada saat yang tepat. Beberapa saat sebelum keberangkatan, saya mendapat kabar dari orang tua kalau saudara tetangga saya di Malang bersedia untuk menampung kami selama acara. Sebuah kabar yang sangat menggembirakan, karena kami tidak jadi terlantar selama di Malang. Kegembiraan bertambah ketika kami mendapat konfirmasi dari panitia bahwa tim saya menjadi finalis lomba karya tulis ilmiah. Surprise sekali, karena itulah pertama kali kami membuat karya tulis dan langsung lolos sebagai finalis. Dalam olimpiade ekonomi ini memang terdiri dari 2 lomba. Pertama lomba olimpiade ekonomi itu sendiri dan yang kedua adalah lomba karya tulis ilmiah.
Perlombaan pun dimulai, hari pertama tanggal 24 Maret 2006 diawali dengan presentasi finalis lomba karya tulis ilmiah di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya. Tiap-tiap finalis berusaha memberikan penampilan terbaiknya di hadapan dewan juri. Rekan saya satu sekolah yang tidak menjadi finalis, menjadi supoter setia kami dalam acara ini.
Pada tanggal 25 Maret 2006, dilaksanakan babak penyisihan berupa soal pilihan ganda. Dari babak ini, diambil 25 tim terbaik menuju babak semifinal. Beruntung 3 tim dari sekolah kami lolos ke babak selanjutnya. Luar biasa sekali perasaan kami saat itu, terutama saya. Karena untuk pertama kalinya saya berhasil melewati babak penyisihan perlombaan olimpiade.
Babak semifinal baru diadakan keesokan harinya, tepatnya 26 Maret 2006. Malam hari kami kembali berkutat dengan materi-materi ekonomi. Tim saya pun belajar hingga tengah malam. Benar-benar sebuah perjuangan yang sangat membutuhkan pengorbanan. Di babak semifinal, format kompetisi adalah cerdas cermat. Terdiri dari 5 sesi, tiap sesi diikuti oleh 5 tim semifinalis. Hanya tersedia 5 tempat di babak final dalam olimpiade ekonomi ini. Saat tiba giliran tim saya tampil, sempat timbul rasa grogi dalam diri saya di menit-menit awal. Terlintas dalam pikiran, di babak final hanya tersedia 5 tempat, berarti saya harus menjadi yang terbaik di sesi ini apabila ingin tetap bertahan dalam perlombaan. Saya menengok ke kanan, ada tim dari SMAN 2 Jombang, ke kiri tampak SMA Kolose Santo Yosep Malang, dua tim tersebut adalah yang mengalahkan saya di olimpiade akuntansi sebelumnya. Tapi akhirnya pikiran saya kembali fokus pada perlombaan. Kejar mengejar angka terjadi antara tim saya, SMAN 2 Jombang, dan SMA Kolose Santo Yosep Malang. Baru menjelang akhir pertandingan tim saya berhasil menjadi yang terunggul dan berhak melaju ke babak final. Hampir tidak percaya saya atas keberhasilan ini. Akhirnya berhasil melakukan revans terhadap sekolah-sekolah yang sebelumnya mengalahkan saya. Sayang keberhasilan tim saya tidak diikuti 2 tim lain dari sekolah kami. Bahkan tim saya merupakan satu-satunya perwakilan dari SMA di Sidoarjo yang lolos ke babak final.
Babak final dilaksanakan hari itu juga setelah kami mendapat briefing dari panitia. Format lomba adalah analisis kasus. Tiap tim mendapat satu buah soal hasil undian, diberi waktu 15 menit untuk berdiskusi dengan anggota tim, kemudian mereka melakukan presentasi dan tanya jawab dengan 2 orang juri selama 15 menit. Penentuan juara dari hasil akumulasi nilai mulai babak penyisihan hingga babak final. Muncul perasaan haru saat tim saya akan melakukan presentasi. Karena tim saya mendapatkan dukungan suporter paling meriah diantara finalis lainnya. Mungkin karena kami satu-satunya tim yang tersisa dari Sidoarjo, sehingga sekolah lain dari satu daerah pun ikut memberikan dukungan kepada kami, di samping tentunya tim lain dari sekolah kami juga. Saking meriahnya, sorak-sorai mereka terdengar sangat kencang ketika MC menyebut nama tim kami, mulai dari Lantai 2 Gedung D Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya (tempat finalis dikarantina), grand final acara berlangsung di lantai 3.
Sesi final yang cukup menegangkan berhasil kami lewati, tibalah saatnya sekarang pengumuman juara. Yang pertama adalah pengumuman juara lomba karya tulis ilmiah (kompetisi pendukung). Satu per satu pemenang disebut, sayang di kesempatan ini tim saya hanya puas sebagai finalis. Kami terima kekalahan tersebut dengan lapang dada. Karena kami merasa telah melakukan yang terbaik. Dan memang tim lain tampil lebih baik dari kami. Tapi kami juga cukup bangga. Pasalnya juara pertama dalam lomba tersebut berasal dari SMAN 1 Sidoarjo, 2 orang dalam tim tersebut adalah rekan saya SMP. Juara kedua dan ketiga diboyong SMAN 2 Jombang.
Dan sekaranglah saat yang paling ditunggu-tunggu. Pengumuman juara lomba olimpiade ekonomi. Semua mata tertuju pada layar proyektor di depan panggung. Suasana semakin bertambah tegang karena panitia mengiringi slide show dengan alunan musik yang sangat pas. Dimulai dari Juara Harapan II. Sambil jantung berdetak dag-dig-dug-der dalam hati saya berdoa “Semoga bukan kami, semoga bukan kami”. Tak lama kemudian muncul “SMAN 1 Jember”. Titik aman pertama terlewati, batin saya. Juara Harapan I, “SMAK Frateran Surabaya”. Jantung saya semakin berdetak kencang saat itu. Berikutnya adalah Juara III, kembali saya berdoa berdoa “Semoga bukan kami, semoga bukan kami”. Dan ternyata “SMAN 1 Malang”. Saya yang saat itu duduk bergerombol dengan rekan-rekan dari sesama Sidoarjo semakin mengeratkan pegangan tangan kami, dan yang pasti serasa mau copot jantung ini rasanya. Karena apa, artinya salah satu dari 2 tim tersisa akan keluar sebagai Juara I. Ucapan syukur alhamdulillah spontan terucap dari mulut saya ketika di layar proyektor muncul tulisan “Juara II. Ade Herawan dkk. SMAN 2 Sidoarjo”. Dan tentunya sorak gembira dan histeris dari rekan-rekan satu tim, satu sekolah serta sesama Sidoarjo. Kami tetap puas meskipun tidak keluar sebagai Juara I, karena kami sudah berusaha semaksimal yang kami bisa, mengeluarkan seluruh kemampuan. Gelar tersebut jatuh ke tangan SMAN 1 Malang. Saat itu juga saya langsung sujud syukur. Penantian saya selama 2 tahun terbayar sudah hari itu. Akhirnya saya meraih predikat sebagai Juara II Olimpiade Ekonomi se-Jawa Timur dan Jawa Tengah. Akhirnya saya berhasil mempersembahkan sebuah prestasi bagi almamater. Dan akhirnya, saya dapat membuktikan bahwa kami anak IPS tidak dapat dipandang sebelah mata.
Setelah berpamitan dengan rekan-rekan sesama juara dan panitia, kami melanjutkan “syukuran” ke Masjid Raden Patah Universitas Brawijaya karena waktu sudah menunjukkan saat Maghrib. Masih belum percaya perasaan saya waktu itu. Masih takjub bahwa saya berhasil mengondol piala tersebut. Mungkin itulah buah dari kegagalan-kegagalan saya sebelumnya, pikir saya saat itu. Ibarat sebuah film, maka film tersebut berakhir dengan happy ending.
Subuh hari kami sudah bersiap-siap kembali ke Sidoarjo, setelah berpamitan dan mengucapkan terima kasih kepada tuan rumah, yang selama 3 hari bersedia kami repotkan, kami langsung cabut. Karena hari itu hari Senin, kami ingin tiba di sekolah saat upacara bendera masih berlangsung. Motivasi kami bukanlah untuk pamer atau ingin dipuji, tapi kami ingin membuktikan kepada seluruh warga sekolah bahwa kami bisa mempersembahkan sebuah prestasi yang membanggakan. Bahwa kita sebagai siswa SMAN 2 Sidoarjo bisa meraih prestasi di bidang akademik, seperti halnya sekolah-sekolah lain di kota kami. Begitu kereta yang kami tumpangi sampai di stasiun Sidoarjo, dengan tergesa-gesa kami langsung mencari pintu keluar. “Masih nutut”, kataku kepada rekan-rekan setelah melihat jarum jam. Karena jarak dari stasiun ke sekolah masih sekitar 500 m lagi, kami memutuskan untuk naik becak agar dapat tiba tepat waktu di sekolah.
Sepertinya Tuhan memang merestui skenario kami. Kami tiba di sekolah tepat beberapa saat sebelum upacara bendera selesai. Setelah berkoordinasi dengan salah seorang guru, kami bersiap-siap memasuki lapangan upacara. Karena saat itu masih menggunakan pakaian bebas, terpaksa kami harus mencari dahulu pinjaman baju seragam. Bergetar hati saya ketika seorang guru mengumumkan, “Baru saja tim SMAN 2 Sidoarjo meraih sebuah prestasi yang membanggakan. Berhasil menjadi Juara II Olimpiade Ekonomi di Universitas Brawijaya Malang”. Applaus panjang menggema saat itu dari peserta upacara serta guru-guru yang hadir. Dan tepuk tangan paling meriah datang dari rekan-rekan kami sesama siswa jurusan IPS. Ada satu moment saat itu yang membuat saya dan rekan-rekan tim olimpiade bahagia. Saat kami melihat ekspresi terkejut dan heran (kalau tidak dapat saya katakan shock) dari kepala sekolah. Mungkin dalam hati beliau berkata, “What??? This is really?”. Dalam hati saya hanya bergumam, “Hehehe, makan itu bu anak-anak IPA kesayanganmu” (mohon maaf mungkin terdengar sadis). Benar-benar sangat memuaskan bagi kami karena berhasil membalikkan semua ekspekstasi negatif beliau terhadap kami, siswa jurusan IPS. Mau tidak mau saat itu pun beliau memberikan ucapan selamat kepada kami. Meskipun mungkin beliau melakukannya dengan terpaksa.
Upacara bendera selesai kami langsung menuju kelas. Kalau saya deskripsikan dalam dua kata suasananya saat itu, mungkin jawaban yang pas adalah “cetar dan membahana”. Kami disambut bak pahlawan oleh warga IPS. Teriakan “Hidup IPS, hidup IPS” menggema saat itu. Sepertinya benar kata orang-orang selama ini, dari dulu sampai sekarang kalau ditanya siapa jurusan yang paling kompak, jawabannya pasti IPS. Tak lupa kami mengucapkan banyak terima kasih kepada guru ekonomi kami. Yang dengan setia membimbing kami menjelang keberangkatan, meskipun tidak didukung pihak sekolah. Dan ternyata tak berapa lama kemudian, prestasi yang berhasil kami raih dimuat di salah satu media lokal di Sidoarjo. Berikut ini foto saya bersama rekan satu tim.
Mengambil hikmah dari cerita saya di atas, sebenarnya tidak ada kata “kegagalan”. Tuhan hanya ingin kita belajar lebih banyak. Kita baru dikatakan gagal ketika kita berhenti untuk berusaha. Berhenti untuk berusaha menggapai kesuksesan. Kesuksesan adalah hak setiap orang. Pertanyaan mendasarnya adalah sejauh mana kita mau berjuang untuk meraih kesuksesan tersebut. Yang terpenting bukan berapa kali kita gagal, tapi bagaimana kita bisa bangkit ketika mengalami kegagalan.
Kebanyakan dari kita sebagai orang Indonesia hanya siap sukses saja, tapi tidak siap ketika mengalami kegagagalan. Ketika kita akan mengikuti suatu kompetisi atau ingin menggapai suatu impian, harusnya dari awal sudah tertanam dalam benak kita bahwa akan terlebih dahulu melalui suatu proses yang bernama kegagalan. Sama halnya ketika kita masih balita dulu, tidak mungkin tiba-tiba kita bisa berjalan. Kita harus belajar merangkak terlebih dahulu, merayap, berjalan selangkah demi selangkah, dan disertai dengan jatuh berkali-kali, baru pada akhirnya kita bisa berjalan dengan sempurna.
Saya termasuk tipe orang yang tidak akan pernah berhenti mengejar mimpi, sampai berhasil mendapatkannya. Bagi sebagian orang mungkin terkesan ambisius, tapi bagi saya mimpi adalah sesuatu yang harus kita perjuangkan, hingga kita berhasil meraihnya. Karena ketika kita berhasil mendapatkannya, ada suatu kepuasan tersendiri yang tak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Perasaan bangga dan haru bercampur menjadi satu. Bangga karena kita berhasil melewati suatu proses yang tidak semua orang mampu melakukannya. Terharu karena ternyata kita mampu untuk menggapainya. Saya sangat menyukai kalimat salah satu novelis favorit saya Andrea Hirata berikut ini, “Bermimpilah, karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu”.
Menurut saya inti dari suatu kesuksesan adalah proses. Suatu fase yang harus kita lalui untuk menggapai kesuksesan yang kita impikan. Karena banyak sekali pelajaran berharga yang kita dapatkan selama menjalani proses tersebut, hasil akhir hanyalah sebuah bonus. Kita sebagai manusia hanya bisa berusaha semaksimal mungkin dan berdoa. Pada akhirnya Tuhanlah penentunya. Dan salah satu filosofi hidup yang saya pegang adalah “Apa yang kita dapatkan sesuai dengan apa yang kita perjuangkan”.
Salam kenal dan salam hangat dari saya. Selamat Tahun Baru 2013. Semoga tahun ini menjadi tahun yang luar biasa bagi kita semua. Sampai jumpa di puncak kesuksesan.
“AMAZING 2013”


De… tanpa sadar buliran air matta hangat turun ke pipiku… tulisanmu itu… sungguh……..mengingatkan perjuangan kita saat ini… aku semakin yakin Allah akan selalu menolong hambaNya yg berusaha dengan semaksimal mungkin beserta hikmahnya…
barrakallah ya de… sepertinya kamu diijinkan untuk terus jadi pejuang mimpi yg tangguh…
SEMANGAT RESOLUSI 2013… Allah pasti menolong kita
Subhanallah, alhamdulillah klo tulisan ini bisa menginspirasi. Iya Ren, hrs selalu semangat. Krn jika kita hidup tanpa SEMANGAT, maka habislah sdh. Dan emang bnr, “Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, hingga kaum tersebut mengubah keadaan pada diri mereka sendiri”. Amien buat doanya, makasih. Sukses jg buat km Ren. Dengan modal keyakinan, semangat, kepercayaan diri, kerja keras & doa, insya Allah smua mimpi2 kita pasti tercapai. SALAM SUKSES!!!